Oleh: Marsigit
Seperti kita ketahui bersama bahwa pembelajaran tradisional mempunyai ciri-ciri menggunakan metode tunggal yaitu ekspositori dengan delivery method, memposisikan guru sebagai pelaku utama dan siswa terposisikan sebagai peserta didik yang pasif. Dengan asumsi ingin memberi bekal materi sebanyak-banyaknya kepada siswa, maka pada pembelajaran tradisional, guru terpaksa melakukan berbagai kegiatan kontrol agar siswa bersikap kooperatif dan memperhatikan guru. Kontrol dilakukan melalui berbagai cara bahkan jika perlu ketika guru mengajukan pertanyaan sekalipun. Hal ini disebabkan karena belum dipahaminya paradigma pendidikan sebagai kebutuhan siswa dan tidak adanya skema untuk itu. Di samping itu guru juga belum mampu mengembangkan skema pembelajaran untuk melayani berbagai macam kebutuhan akademik siswa. Berikut contoh cuplikan berbagai aterensi yang ditemukan penulis yang menggambarkan bagaimana guru melakukan kontrol terhadap siswa melalui directed teaching:
Aterensi 1:
Wahyu ngantuk ya ?
Nah tadi sudah makan belum ?
Sudah.
Banyak nonton T.V. ya ?
Nah berapa coba ?
Aterensi 2:
Bagaimana cara penyelesaiannya ?
Penyelesaiannya bagaimana ?
Bagaimana Anto ?
YANG LAIN DIAM.
Aterensi 3:
Sudah apa belum ?
Nah kalau sudah diteliti dulu dari nomor satu sampai nomor sepuluh
AYO PRIHANTO KAMU SUDAH SELESAI ?
SUDAH DITELITI ?
AYO DITELITI LAGI
COBA SAMPAI BETUL
TIDAK HANYA DILIHAT LHO YA PRIHANTO
Aterensi 4:
Ayo Candra duduknya bagaimana ?
Hayo yang tertib Rona, ayo Rona duduknya yang bagus.
Nanti supaya betul semua
Aterensi 5:
Nol dapat dikurang lima ?
Sebetulna dapat tapi ini kurang ya to ?
Jadi barang tidak ada dikurangi lima, maka ...
SETERUSNYA KITA BAGAIMANA ?
Pinjam
Pinjam pada...?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar